Tim guru kelas 5 SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo mengikuti penguatan English Environment melalui latihan Weekly Expression di sekolah, Rabu (5/8/2026). (Tagar.co/Henny Ratmawati)

Satu kalimat sederhana menjadi “kata sandi” memasuki kelas. Dari kebiasaan kecil itu, SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo menanamkan budaya berbahasa Inggris demi melahirkan generasi berwawasan global.

Tagar.co – Bunyi sapaan berbahasa Inggris terdengar sejak pagi menyelimuti halaman SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo (Muhida), Rabu (5/8/2026). Melalui program English Environment, seluruh warga sekolah memulai langkah baru untuk membangun budaya berbahasa Inggris sekaligus menyiapkan generasi berwawasan global.

Pemandangan itu tidak hanya melibatkan murid. Guru, tenaga kependidikan, hingga orang tua turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Sekolah meyakini bahwa lingkungan belajar akan tumbuh kuat ketika seluruh elemennya melangkah dengan irama yang sama.

Membangun kebiasaan itu tentu bukan perkara mudah. Apalagi, Muhida menaungi 1.194 warga sekolah dengan latar belakang kemampuan bahasa yang beragam. Namun, sekolah memilih tidak menjadikan tantangan sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, mereka menyusun program yang sistematis agar kebiasaan baru tumbuh sedikit demi sedikit, layaknya benih yang disiram setiap hari.

Program itu dipimpin Kepala Urusan Kurikulum, Mufida Sufianti, S.Pd.SD., M.Pd. Ia bersama tim menghidupkan kembali budaya berbahasa Inggris yang pernah menjadi identitas sekolah.

Setiap pekan, perjalanan belajar dimulai dari rumah. Melalui grup komunikasi sekolah, orang tua menerima video Weekly Expression. Bersama anak-anak, mereka berlatih mengucapkan ungkapan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Keesokan harinya, kalimat itu berubah menjadi “kata sandi” memasuki kelas. Murid mengucapkannya sebelum mengikuti pembelajaran. Pekan ini, ungkapan yang dipilih ialah “How much is it?”, kalimat sederhana yang sering digunakan saat berinteraksi.

Jika masih ragu mengucapkannya, guru tidak langsung memberi penilaian. Sebaliknya, mereka mendampingi setiap murid hingga percaya diri mengucapkan kalimat tersebut. Dengan cara itu, belajar bahasa tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebiasaan yang tumbuh secara alami.

Program English Environment di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo membiasakan seluruh warga sekolah berbahasa Inggris sebagai langkah membangun generasi berwawasan global.
Tim guru kelas 1 SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo mengikuti penguatan English Environment melalui latihan Weekly Expression di sekolah, Rabu (5/8/2026). (Tagar.co/Mufida Sufianti)

English Environment Tumbuhkan Budaya Belajar Global

Menurut Mufida Sufianti, program tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan berbicara. Sekolah merancang empat tujuan utama sebagai fondasi pembelajaran.

Pertama, membiasakan seluruh warga sekolah menggunakan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari. Kedua, mengembangkan empat keterampilan berbahasa, yaitu listening, speaking, reading, dan writing. Ketiga, memperkaya kosakata sekaligus membangun rasa percaya diri. Terakhir, membentuk pola pikir global sejak usia dini.

Meski demikian, Mufida mengakui bahwa konsistensi menjadi tantangan terbesar. Karena itu, sekolah terus memperkuat pengawasan dan evaluasi agar budaya tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat.

Semangat itu juga mendapat dukungan penuh dari Kepala SD Muhida, Moch. Saifullah Rochim, S.E., M.Pd. Ia mengingatkan bahwa English Environment bukan gagasan baru.

Baca Juga: Upgrading Wudu dan Salat, Cara SD Muhida Pahamkan Syariat Ibadah bagi Guru dan Karyawan

Sekitar dua dekade lalu, Ikhsan, S.Ag., M.Si., merintis program serupa saat memimpin SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo. Seiring perjalanan waktu, program itu mengalami pasang surut. Kini, Muhida menghidupkannya kembali sebagai bagian dari Rencana Kerja Jangka Panjang (RKJP) kedua dengan tagline “Islamic, Digital, International Boarding School.”

Selama empat tahun terakhir, sekolah memasuki tahap kedua pengembangan dengan fokus memperkuat budaya bilingual. Karena itu, peningkatan kompetensi bahasa Inggris tidak hanya menyasar murid, tetapi juga guru dan tenaga kependidikan. Mereka menjadi teladan sekaligus mitra belajar bagi peserta didik.

Komitmen tersebut selaras dengan firman Allah Swt. dalam Surah Ar-Rum ayat 22 yang menjelaskan bahwa perbedaan bahasa merupakan salah satu tanda kebesaran-Nya. Keberagaman bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jendela untuk memahami dunia yang lebih luas.

Melalui ruang-ruang kelasnya, SD Muhida terus menanamkan keyakinan bahwa kemampuan berbahasa asing bukan sekadar bekal akademik. Lebih dari itu, bahasa menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan peradaban global tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. (#)

Penulis Henny Ratmawati Penyunting Terry Angria Putri Perdana

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Related Posts